Blogger Widgets

Infolinks In Text Ads

Wednesday, November 14, 2012

RESENSI BUKU MENGAPA DAN BAGAIMANA SAYA MENGARANG



Judul : Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang jilid 3
- Penulis : Pamusuk Eneste
- Penerbit : Gunung Agung – Jakarta MCML XXXVI
- Cetakan Pertama : 1986
- Tebal : 180 halaman
Buku ini menjelaskan mengenai Latar Belakang para Sastrawan Indonesia untuk mulai mengarang dan menghasilkan karya-karya Sastra baik dalam bentuk Sajak, Prosa atau karya-karya Sastra lainnya. Dijelaskan pula perjalanansingkat kehidupan mereka dalam hal kesustraan. Juga terdapat gambaran mengenai proses kepengaraan mereka.
Berikut beberapa penjelasan singkat mengenai mengapa dan bagaimana para Sastrawan besar Indonesia dalam menghasilkan karya-karya Sastra :
- Etos kreatif dan proses kreatif – Linus Suryadi AG : Kehidupan semasa kecilnya tidak menunjukan kalau ia mempunyai keistimewaan dalam hal syair-menyair. Pertama kali ia tertarik dalam dunia syair-menyair yaitu ketika bertemu dengan sejumlah Mahasiswa UGM di Pondokan Utara Tugu Jogja pada tahun 1969. Diantaranya yaitu Suyono Ahmad Suhadi yang sering membaca majalah Horison dan Sastra. Lalu ia tergerak untuk meminjam majalah tersebut sehingga ia berkeinginan untuk menulis sebuah sajak. Dan sajak pertamanya yang di muat di majalah Basis yaitu sajak yang berjudul Alibi. Tujuannya terjun ke dalam dunia kepenulisan puisi yaitu supaya ia bisa terbebas dari keresahan dan kegelisahan batin yang sering ia rasakan.
Prosa liriknya yang sangat di kenal kalangan masyarakat yaitu Pengakuan Pariyem. Tokoh dalam lirik ini diambil dari dua model yaitu seorang anak petani yang menumpang hidup di rumahnya dan seorang dari keluarga sedusunnya, cantik, muda dan merupakan lembu peteng (anak tak sah). Dan beberapa tokoh lainnya yang merupakan buah imajinasinya yang terdapat pada lirik tersebut.
- Hanya Daun, Cuma Daun – Darmanto Jatman : Karena ketidakberhasilannya dalam mengungkapkan sajak bahasa Indonesia, akhirnya banyak sajak Darmanto yang menjadi penghuni keranjang sampah. Satu kata bahasa Jawa yang sulit ia ubah menjadi bahasa Indonesia karena terlanjur menyukai kata tersebut yaitu kata Lestari. Menurutnya kata tersebut telah membebaskannya dari Obsesi kaeabadian yang menjadi impian para penyair pada waktu itu, dan karena satu kata itu pula lah sajaknya tidak jadi di terbitkan. Sementara di Gereja selalu di kabarkan betapa Fananya kehidupan manusia. Sebuah lagu yang telah mengucap segenap pewarnaan pengertian hidupnya, Hanya Daun. Di sampiung percaya akan Wahyu, ia juga percaya akan Ilmu, kelak menurut hematnya Wahyu erembes ke dalam ilmu. Maka ilmu pun menjadi sumber penafsiran makna hidupnya.
- Bergurau atau mencela lewat Mesin ketik – Titis Basino P.I : Titis merupakan sosok wanita pendiam. Ia mulai menulis pertama kali yaitu ketika berada di SLTP dan SLTA. Itu pun hanya ketika ada tuntutan tugas dari gurunya. Pada saat itu pun tulisannya tidak terikat pada aturan yang pernah dipelajarinya di sekolah. Sering kali tulisannya di tertawakan oleh teman-teman sekelasnya, karena menurut teman-temannya bahasa tulisannya sangat aneh dan sukar di pelajari. Tulisan-tulisannya selalu bertemakan mengenai kehidupan guru-gurunya yang pada masa itu mereka sangat ingin di agungkan.
Baginya, menjadi seorang penulis bukanlah tujuan hidupnya, karena ia beranggapan bahwa seorang penulis ituidentik dengan kemiskinan. Menjadi seorang pengarang bukanlah karena honornya, melainkan karena ia akan mendapat kelegaan ketika ia menuliskan apa yang ada di pikirannya. Pertama kali ia menulis yaitu ketika ia berada di asrama putri, yang pada saat itu masih bertemakan perasaannya terhadap lawan jenisnya. Yaitu Rumah Dara, Dia dan Hotel. Ketiga tulisan tersebut di muat di sebuah media. Lewat mesin ketik pula lah ia bisa dengan bebas mencurahkan isi hatinya, bergurau ataupun mencela lawan jenisnya dengan aman.
- Proses kreatif saya sebagai penyair – W.S. Rendra : Pada masa remajanya, pola pikir Rendra lebih menuju pada penghayatan Alam semesta. Ketertarikannya yaitu pada bidang cerita dongeng, legenda dan mitologi. Proses penghayatan Alamnya yaitu dengan cara mengamati, memeluk, menyetubuhi hingga akhirnya menghayati dengan sepenuh jiwa. Yang kemudian sampai pada kesadaran alam, yaitu kesadaran diluar kesadaran kebudayaan. Sebagai seorang seniman, Rendra mempunyai pengalaman melakoni dan menghayatin perkembangan bentuk seni yang beragam. Ia mempunyai disiplin untuk tidak mengabdi pada bentuk seni tertentu, melainkan harus menguasai daya kekuatan seni yang beragam dan mampu melayani kebutuhan Dinamisme isi rohani dan pikirannya. Setelah lama berkecimpung dengan dunia alam, ia pun kini mulai memikirkan tentang peristiwa hidup dan mati. Hingga lahirlah sajak Kakawin kawin dan Masmur mawar. Selain itu, Rendra juga merupakan sosok yang sangat tertari9k dengan persoalan sosial, ekonomi dan politik, meskipun pengetahuannya dalam bidang tersebut sangatlah minim.
- Mengapa mengaramg – Utut Tatang Sontani : Utuy adalah seorang yang asli keturunan dari keluarga Sunda. Ayah dan ibunya hidup didaerah Cianjur. Pada masa kecilnya ia pernah di sekolahkan di sekolah Schakel, di situ ia bisa belajar banyak tentang bahasa Belanda. Akibat keterbatasannya dalam hal menghafal, ia di hukum oleh gurunya untuk berdiri di depan kelas. Sehingga pada hri-hari setelah itu ia tidak mau untuk melanjutkan sekolah dan akhirnya di keluarkan dari sekolah Schakel. Melihat ahl itu, ibunya tidak tinggal diam, beliau berkali-kali membujuknya agar mau di sekolahkan kembali. Tapi ajakan ibunya itu terus menerus ia tolak hingga ia akhirnya bersedia di sekolahkan lagi. Ketika seusia remaja ia sangat senag membaca koran. Dan pertama kali ia mulai menulis yaitu ketika ia merasa sangat kesal terhadap seorang gadis perempuan, tetangganya. Tulisan tersebut kemudian ia kirimkan ke redaksi sinar pasundan melalui paman dari gadis perempuan tetangganya itu. Tulisan itu pun berhasil di muat karena dalam proses pembuatannya ia merasakan sendiri keadaan tersebut sehingga dapat begitu mengena di hatinya. Nasib kependidikannya mulai tidak jelas, ia pernah naik kelas pindah ke sekolah Taman dewasa, tapi tidak bertahan lama karean keadaan ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, akhirnya ia keluar dari sekolah tersebut. Setelah itu ia mulai menulis kembali, terdapat dua karya pada saat itu, Mahala Bapak dan Tambera. Hingga orang telah banyak yang mengenalnya. Menurut ibunya, ia pandai mengarang di karenakan sifatketurunan dari neneknya dulu yang suka mengarang cerita juga. Kata ayahnya berbeda lagi, ia pandai mengarang karena didikan paman dari gadis yang dulu pernah menjadi tetangganya.
- Kesimpulan : Para Sastrawan Indonesia dair kecil sangat bevaariatif kehidupannya, ada yang semasa kecilnya sudah menunjukan kalau ia akan menjadi seorang pengarang besar dan ada pula yang semasa kecilnya sama sekali tidak menunjukan keistimewaannya dalam hal mengarang dan menulis. Kepengarangan itu sendiri mereka temukan melalui proses kehidupan dan realitanya.

0 comments:

Post a Comment

Your Comments